Senin, 19 Desember 2011
Sabtu, 10 Desember 2011
EDEMA
Transudat : massa jenis < 1,020
Eksudat : massa jenis > 1,020
- Penyebab edema
- Peningkatan dan tekanan vena: cairan keluar dari pembuluh darah ke ruang ekstraselular.
- Sistemik:
Kegagalan jantung
- Lokal:
Obstruksi mekanik terhadap drainase
Contoh: uterus gravid menekan vena
- Penurunan tekanan osmotik darah
Edema: jika protein plasma menurun < 40 gr/l.
Penyebab penurunan protein:
- Asupan yang tidak cukup
Contoh: edema kelaparan, sindroma malabso
- Haluaran yang berlebihan
Contoh:
- Penyakit ginjal dengan albuminuria: sindroma nefrotik
- Keluarnya protein pada luka bakar berat
- Produksi yang kurang
Contoh: penyakit hepar berat dengan defisiensi sintesis proteion.
- Peningkatan permeabilitas kapiler
Menyebabkan kelebihan cairan dan protein plasma untuk masuk ke dalam jaringan.
- Sistemik:
Produk bakterial dan bahan kimia ß anaksia yang berkaitan dengan kegagalan jantung.
- Lokal:
Cedera setempat dari pembuluh darah oleh luka bakar, bahan kimia dan infeksi.
- Peningkatan tekanan osmotik cairan ekstraselular
Kelebihan ion natrium dalam cairan ekstraselular menahan air à edema
Penyebab:
- Kegagalan jantung
- Kegagalan ginjal
- Asupan diet natrium yang berlebihan
- Obstruksi limfatik
Mencegah drainase cairan jaringan, jika menetap à limfedema. Jika berat à elefantiasis.
Penyebab:
- Kongenintal
- Parasitik: infeksi filaria
- Pembentukan parut: fibrosis setelah infeksi: limfogranuloma venerium
- Pembedahan: setelah pengeluaran limfenodul inguinal atau aksilar. Contoh: pada karsinoma payudara
- Keganasan: blokade oleh sel tumor
- Tipe Klinik
2 tipe paling sering dari edema generalisata adalah:
- Edema jantung
Faktor utama:
- Peningkatan tekanan hidrostatik dalam vena
- Anoksia stagnasi dengan peningkatan permeabilitas vaskular
- Retensi ion natrium dengan peningkatan tekanan osmotik cairan ekstraselular
- Edema ginjal
Faktor yang terlibat:
- Penurunan protein plasma à menurunkan tekanan osmotik plasma (oleh karena albumenuria)
Contoh: sindroma nefrotik
- Peningkatan tekanan osmotik cairan ekstraselular, disebabkan gangguan elektrolit.
Contoh: kegagalan ginjal akut
- Peningkatan permeabilitas kapiler
Merupakan suatu faktor pada edema glomerulonefritis akut
- Tumpang tindih dengan edema jantung
Kegagalan jantung yang berkaitan dengan hipertensi sebagai akibat sekunder penyakit ginjal.
Efek edema:
Edema serebral à peningkatan tekanan intraranial, koma, bahkan kematian.
Edema paru à pergeseran udara oleh cairan dalam alveoli à menghambat pertukaran gas dispnu dan sianosis.
Kongesti
- Kongesti aktif
Merupakan dilatasi arterial dan kapiler
Terjadi pada latihan dan pada peradangan.
- Kongesti venosa pasif
Merupakan stasis vena
Dapat akut atau kronik, setempat atau U.
- Kongesti venosa akut pasif
Organ/jaringan merah tua, berisi penuh dengan darah.
- Setempat:
Karena abstruksi mendadak dari aliran balik vena (venous return)
Contoh: trombosis vena
- Umum:
Kegagalan jantung akut
Asfiksia
- Kongesti venosa kronik pasif
- Setempat:
Disebabkan obstruksi vena yang lama dengan atau tanpa trombosis. Terjadi karena pembesaran lomfonodul, tumor, massa lain yang menekan vena.
- Umum:
Pada kegagalan jantung kronik.
- Perubahan organ pada kongesti venosa pasif:
Kongesti ringan à hiperemia
Lebih berat atau lama à anoksia jariangan à degenerasi parenkimal
- Paru
Pada kegagalan jantung kiri kronik dan obstruksi mitral. Paru: padat, coklat dan fibrosa.
- Hepar
Pada kegagalan jantung kanan
- Dini: kongesti berat pada hepar
- Kemudian: kerusakan sel hepar
- Lanjut: nekrosis dan fibrosis
- Lien
Dini : sedikit membesar
Selanjutnya: membesar secara makroskopis disertai fibrosis
- Ginjal
Agak membesar, merah tua
Mikroskopis; glomeruli sangat membengkak
- Organ lain
Usus, lambung dan visera lain: pembengkakan dan darah.
Anggota gerak: khususnya tungkak mengandung darah berlebihan, sering dan edema.
- Akibat kongesti vena yang lama
- Pembesaran akibat pembengkakan
- Anoksia stragnasi dengan degenerasi sel parenkimal dan peningkatan fibrosis
- Edema
Nekrosis
- Definisi
Nekrosis adalah kematian sel
- Penyebab
- Iskemia : kekurangan oksigen, metabolik lain
- Infektif : bakteri, virus, dll
- Fisiko-kimia : panas, sinas X, asam, dll
- Terdapat 2 tipe :
- Nekrosis koagulatif
Disebabkan oleh denaturasi protein sekular yang menimbulkan massa padar, menetap berhari-hari/berminggu-minggu à larut dan dikeluarkan dari lisis enzimatik.
Tipe ini ditemukan setelah kehilangan pasokan darajh, contoh pada infark
- Nekrosis kolikuatif
Terjadi pelaritan yang cepat dari sel yang mati. Terutama terjadi pada susunan saraf pusat.
à pemecahan mielin à perlunakan otak
à likuefaksi, contoh: setelah sumbatan vaskular
- Penyebab Nekrosis
- Iskhemi
Iskhemi dapat terjadi karena perbekalan (supply) oksigen dan makanan untuk suatu alat tubuh terputus. Iskhemi terjadi pada infak, yaitu kematian jaringan akibat penyumbatan pembuluh darah. Penyumbatan dapat terjadi akibat pembentukan trombus. Penyumbatan mengakibatkan anoxia. Nekrosis terutama terjadi apabila daerah yang terkena tidak mendapat pertolongan sirkulasi kolateral. Nekrosis lebih mudah terjadi pada jaringan-jaringan yang bersifat rentan terhadap anoxia. Jaringan yang sangat rentan terhadap anoxia ialah otak.
- Agens biologik
Toksin bakteri dapat mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah dan trombosis. Toksin ini biasanya berasal dari bakteri-bakteri yang virulen, baik endo maupun eksotoksin. Bila toksin kurang keras, biasanya hanya mengakibatkan radang. Virus dan parasit dapat mengeluarkan berbagai enzim dan toksin, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi jaringan, sehingga timbul nekrosis.
- Agens kimia
Dapat eksogen maupun endogen. Meskipun zat kimia merupakan juga merupakan juga zat yang biasa terdapat pada tubuh, seperti natrium dan glukose, tapi kalau konsentrasinya tinggi dapat menimbulkan nekrosis akibat gangguan keseimbangan kosmotik sel. Beberapa zat tertentu dalam konsentrasi yang rendah sudah dapat merupakan racun dan mematikan sel, sedang yang lain baru menimbulkan kerusakan jaringan bila konsentrasinya tinggi.
- Agens fisik
Trauma, suhu yang sangat ekstrem, baik panas maupun dingin, tenaga listrik, cahaya matahari, tenaga radiasi. Kerusakan sel dapat terjadi karena timbul kerusakan potoplasma akibat ionisasi atau tenaga fisik, sehingga timbul kekacauan tata kimia potoplasma dan inti.
- Kerentanan (hypersensitivity)
Kerentanan jaringan dapat timbul spontan atau secara didapat (acquired) dan menimbulkan reaksi imunologik. Pada seseorang bersensitif terhadap obat-obatan sulfa dapat timbul nekrosis pada epitel tubulus ginjal apabila ia makan obat-obatan sulfa. Juga dapat timbul nekrosis pada pembuluh-pembuluh darah. Dalam imunologi dikenal reaksi Schwartzman dan reaksi Arthus.
INFARK
- Definisi
Suatu daerah nekrosis iskemik yang timbul oleh kurangnya pasokan darah, biasanya oleh embolisme atau trombosit.
- Faktor-faktor predisposisi
Daerah dengan sirkulasi kolateral yang tidak cukup setelah blokade pembuluh darah = daerah/jaringan dengan “end arteri”
- Tipe
- Aseptik
- Septik
Rabu, 22 Juni 2011
DASAR-DASAR ELEKTROKARDIOGRAFI
I. Sistem Konduksi Jantung
Pada umumnya sel otot jantung mendapat stimulus dari luar, akan menjawab dengan timbulnya potensial aksi, yang disertai dengan kontraksi, kemudian repolarisasi yang disertai dengan relaksasi.
Potensial aksi dari satu sel otot jantung diteruskan ke sel otot jantung sekitarnya sehingga sel-sel otot jantung disekitarnya akan mengalami juga proses eksitasi-kontraksi-relaksasi. Penerusan dari peristiwa listrik ini disebut konduksi.
Sel otot jantung punya sifat otomatisitas. Sel-sel ini terkumpul dalam suatu sistem yang disebut sistem kunduksi jantung, yang terdiri dari :
1. Simpul Sino-Atrial (Nodus Sinus, Sinus)
Simpul ini mempunyai sifat otomatisitas tertinggi dalam sitem konduksi jantung
2. Sistem Konduksi Intra-Atrial
Terdiri dari 3 jalur internodal yang menghubungkan simpul sino-atrial dan simpul atrio-ventrikuler, serta jalur Bachman yang menghubungkan atriun kanan dan kiri.
3. Simpul Atrio-Ventrikuler (Nodus Atrio-Ventrikuler, Nodus)
Terletak di bagian bawah dari atrium kanan, antara sinus koronarius dan daun trikuspid bagian septal
4. Berkas His
Berkas pendek merupakan kelanjutan dari simpul atrio-ventrikuler. Simpul atrio-ventrikuler bersama berkas his disebut penghubung-atrio-ventrikuler, disingkat penghubung.
5. Cabang Berkas
Terdiri dari 2 yaitu; cabang berkas kiri dan cabang berkas kanan.
6. Fasikel
Cabang berkas kiri mempunyai cabang 2 bagian; fasikel kiri anterior dan fasikel kiri posterior
7. Serabut Purkinje
Bagian terakhir dari sistem konduksi yang merupakan anyaman halus dan berhubungan erat dengan sel-sel otot jantung.
Otomatisitas dan Ritmisitas Pada Sistem Konduksi Jantung
Semua sel-sel otot jantung mempunyai sifat Otomatisitas, yaitu dapat menimbulkan potensial aksi sendiri tanpa adanya stimulus dari luar. Dan ini timbul secara ritmis sehingga dapat dikatakan semua sel dalam sistem konduksi mempunyai sifat ritmisitas.
Masing-masing bagian dari sistem konduksi jantung mempunyai frekwensi ritmisitas sendiri-sendiri. Fisiologis : Simpul sinus mempunyai otomatisitas dan ritmisitas tertinggi, serabut Purkinje yang terendah. Otomatisitas dan ritmisitas sitem konduksi jantung dipengaruhi sistem saraf simpatik dan parasimpatik
BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)
Bantuan hidup dasar (BHD) merupakan bagian dari pengelolaan kegawatdaruratan medik.
- TUJUAN BHD
- Mencegah berhentinya respirasi atau berhentinya sirkulasi.
- Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari pasien yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui resusitasi jantung paru ( RJP ).
CARA MENENTUKAN BERAT BADAN SESEORANG
(Apabila tidak dapat dilakukan penimbangan BB, hanya diketahui tinggi badan)
BANGUN TUBUH | LAKI - LAKI | PEREMPUAN |
SEDANG | 48 Kg untuk 152 Cm pertama, selanjutnya tambahkan 2,7 Kg untuk kenaikan 2,5 Cm | 45,5 untuk 152 Cm pertama, selanjutnya tambahkan 2,3 Kg untuk kenaikan 2,5 Cm |
KECIL | Kurangi 10 % | Kurangi 10 % |
BESAR | Tambahkan 10 % | Tambahkan 10 % |
Contoh soal :
Pasien laki – laki dewasa dengan TB = 160 Cm
Berapa estimasi berat badan pasien ?
Jawaban :
BANGUN TUBUH SEDANG
Diketahui = 152 Cm --------------à 48 Kg
160 Cm – 152 Cm = 8 Cm : 2,5 Cm = 3,2 x 2,7 Kg
= 8,64 Kg + 48 Kg
= 56, 64 Kg
BANGUN TUBUH KECIL – 10% ------------à 56,64 – 10 % = 46,64 Kg
BANGUN TUBUH BESAR + 10% ------------à 56,64 + 10 % = 66,64 Kg
LITERATUR :
BUKU FUNDAMENTAL OF NURSING JILID II
BUKU APLIKASI DAN TEORI PROSES KEPERAWATAN ‘’ NIKMATURROHMAH , A.per.pen. S.Kep. Ns ‘’
Selasa, 15 Februari 2011
SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
SADARI merupakan pemeriksaan payudara sendiri secara manual. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk membantu wanita melakukan deteksi dini adanya kelainan pada payudara (Suddarth & Brunner, 2003).
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemeriksaan payudara setiap wanita. Pemeriksaan payudara sendiri dilakukan setiap 1 bulan sekali dan dapat menjadi instrumen penapisan yang efektif untuk mengetahui lesi payudara (Varney, 2007).
Sedangkan menurut Smeltzer (2005) SADARI adalah pemeriksaan payudara sendiri antara hari ke – 5 dan ke – 10 dari siklus menstruasi, dengan menghitung hari pertama haid sebagai hari 1. Dan menurut Maulani (2009), Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah bagian penting dari perawatan kesehatan, yang dapat melindungi anda dari resiko kanker payudara.
Deteksi dini kanker payudara adalah program pemeriksaan untuk mengenali kanker payudara sewaktu masih berukuran kecil, dan sebelum kanker tersebut mempunyai kesempatan untuk menyebar (Dixon dan Leonard, 2006). Kanker payudara dapat ditemukan secara dini dengan pemeriksaan SADARI, pemeriksaan klinik dan pemeriksaan mamografi. Deteksi dini dapat menekan angka kematian sebesar 25-30% (Saryono dan Pramitasari, 2009).
B. Indikasi SADARI.
a. Wanita yang telah berusia 20 tahun.
b. Wanita berumur di atas 40 tahun yang tidak mempunyai anak.
c. Wanita yang mempunyai anak pertama pada umur 35 tahun.
d. Wanita yang tidak kawin.
e. Menarche lebih dini (di bawah 10 tahun).
f. Menopause yang lambat.
g. Mengalami trauma pada payudara.
h. Wanita di atas 25 tahun yang keluarganya pernah menderita kanker payudara.
i. Tidak menyusui.
j. Pernah operasi payudara atau alat reproduksinya.
k. Pernah mendapat obat hormonal yang lama.
l. Cenderung kelebihan berat badan.
C. Langkah-langkah SADARI.
SADARI meliputi :
a. Langkah 1
• Berdirilah di depan cermin
• Periksa payudara terhadap segala sesuatu yang tidak lazim
• Perhatikan adanya rabas dari puting payudara, keriput, dimpling atau kulit mengelupas.
b. Langkah 2
Dua langkah berikut ini dilakukan untuk memeriksa segala perubahan dalam kontur payudara. Ketika melakukannya, diharapkan anda harus mampu untuk merasakan otot-otot anda yang terasa menegang.
• Perhatikan dengan baik di depan cermin ketika anda melipat tangan di belakang kepala anda dan menekan tangan anda ke arah depan.
• Perhatikan setiap perubahan kontur dari payudara anda.
c. Langkah 3
• Selanjutnya tekan tangan anda dengan kuat pada pinggang anda dan agak membungkuk ke arah cermin sambil menarik bahu anda dan siku anda ke arah depan.
• Perhatikan setiap perubahan kontur payudara anda
d. Langkah 4
Beberapa wanita melakukan bagian pemeriksaan berikut ketika sedang mandi dengan shower. Jari – jari anda akan meluncur dengan mudah di atas kulit yang bersabun, sehingga anda dapat berkonsentrasi dan merasakan terhadap setiap perubahan di dalam payudara.
• Angkat tangan kiri anda.
• Gunakan 3 atau 4 jari tangan kanan anda untuk meraba payudara kiri anda dengan kuat, hati – hati dan menyeluruh.
• Mulailah pada tepi terluar, tekan bagian datar dari tangan anda dalam lingkaran kecil, bergerak melingkar dengan lambat di sekitar payudara.
• Secara bertahap lakukan ke arah puting susu.
• Pastikanlah untuk melakukannya pada seluruh payudara
• Beri perhatian khusus pada area di antara payudara dan di bawah lengan termasuk bagian di bawah lengan itu sendiri.
• Rasakan adanya benjolan atau massa yang tidak lazim di bawah kulit.
e. Langkah 5
- Dengan perlahan remas puting susu dan perhatikan terhadap adanya rabas.
- Jika anda mengeluarkan rabas dari puting susu selama sebulan – yang terjadi ketika anda sedang atau tidak melakukan SADARI, maka segeralah temui dokter anda.
- Ulangi pemeriksaan pada payudara kanan anda.
f. Langkah 6
• Langkah 4 dan 5 harus diulangi dalam posisi berbaring.
• Berbaringlah mendatar terlentang dengan lengan kiri anda di bawah kepala anda dan sebuah bantal atau handuk yang dilipat di bawah bahu kiri anda (posisi ini akan mendatarkan payudara anda dan memudahkan anda untuk memeriksanya).
• Gunakan gerakan sirkuler yang sama seperti yang diuraikan di atas.
• Ulangi pada payudara kanan anda (Suddarth & Brunner, 2003).
Senin, 14 Februari 2011
ANATOMI SISTEM PENCERNAAN
Kamis, 10 Februari 2011
ANATOMI SISTEM KARDIOVASKULER
A. Anatomi Fisiologi
Sistem kardiovaskuler terdiri dari 3 bagian yang saling mempengaruhi yaitu jantung, pembuluh darah, dan darah (Depkes, 1993 : 3)